"Dari kerasnya hidup, berbagi seragam sekolah, hingga menerangi malam dengan lampu pelita. Kisah Ibu Nur menjadi potret keteguhan seorang ibu yang membesarkan delapan anak dengan doa, disiplin, dan keyakinan bahwa kesulitan bukan akhir dari perjuangan. Cerita ini terekam saat Ibu Nur ditemui Ketua DPD Partai Golkar Kota Ambon, Ely Toisutta kemarin"

AMBON TANASE — Malam itu, bukan kemewahan yang memenuhi ingatan Ibu Nur, melainkan aroma kue cucur yang menjadi tumpuan hidup keluarganya. Lima kilogram adonan kue dibuat, kemudian dibagi kepada anak-anaknya. Masing-masing mendapat jatah 50 buah untuk dijual demi membantu memenuhi kebutuhan keluarga.

Di tengah keterbatasan, Ibu Nur terus menjalani hari-harinya. Ia bukan hanya seorang ibu yang mencari nafkah, tetapi juga seorang pendidik di rumah, yang berusaha memastikan delapan anaknya tetap memiliki masa depan, meski kehidupan tidak selalu berpihak kepadanya.

Kini, ketika salah satu anaknya, Bahlil Lahadalia, menduduki jabatan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, kenangan tentang masa-masa sulit itu tidak pernah benar-benar pergi.

Bagi Ibu Nur, keberhasilan anak-anaknya bukan alasan untuk melupakan masa lalu. Justru dari sanalah ia belajar tentang arti syukur, ketekunan, dan tanggung jawab kepada sesama. Pesan itu selalu ia tanamkan kepada anak-anaknya.

“Jang su jadi pemimpin lalu kamong lupa akan berkah yang diberikan Allah di tengah kesulitan yang dialami.” ungkapnya

Kalimat sederhana dalam dialek Maluku itu menyimpan pesan mendalam: jabatan dan keberhasilan tidak boleh membuat seseorang kehilangan ingatan tentang perjuangan yang membawanya sampai ke titik sekarang.

Masa kecil Bahlil dan saudara-saudaranya jauh dari gambaran kehidupan keluarga pejabat. Untuk bersekolah, mereka bahkan harus berbagi sepatu dan seragam.

Ada yang masuk sekolah pada pagi hari, ada pula yang mendapat giliran siang. Seragam yang sama harus digunakan bergantian agar semua anak tetap bisa mengenyam pendidikan.

Ibu Nur masih mengingat bagaimana Bahlil menunggu saudaranya pulang sekolah ketika jadwalnya tiba untuk mengenakan seragam yang akan dipakainya. Setelah saudaranya kembali, barulah pakaian sekolah itu berganti pemilik.

Begitulah hari-hari mereka berjalan. Keterbatasan bukan sekadar cerita tentang kekurangan, melainkan kenyataan yang harus dihadapi setiap hari.

Namun, di tengah keadaan itu, Ibu Nur tidak membiarkan pendidikan anak-anaknya menjadi korban.

Ia tahu betul bagaimana rasanya tidak bisa menuntaskan pendidikan. Pengalaman tersebut menjadi cambuk baginya untuk memastikan anak-anaknya memperoleh kesempatan yang tidak sepenuhnya ia nikmati.

Ketika malam tiba, rumah mereka belum dilengkapi listrik. Anak-anak belajar di bawah cahaya lampu pelita berbahan bakar minyak tanah. Asap dari lampu itu terkadang meninggalkan jelaga di wajah mereka.

Dalam keadaan serba terbatas, buku-buku pelajaran tetap dibuka. Waktu belajar tetap dijaga. Sekolah bukan pilihan yang boleh ditinggalkan sesuka hati.

Ibu Nur menerapkan disiplin yang ketat. Ia mengawasi pelajaran anak-anak di rumah dan menuntut mereka menunjukkan prestasi. Baginya, keterbatasan ekonomi tidak boleh menjadi alasan untuk menyerah dalam pendidikan.

“Saya memang tegas. Saya mau anak-anak belajar sungguh-sungguh. Puji Tuhan, mereka bisa naik kelas dengan peringkat terbaik, bahkan rangking satu di sekolah masing-masing sampai selesai,” tuturnya.

Ketegasan itu, dalam pandangan Ibu Nur, merupakan bagian dari kasih sayang. Ia ingin anak-anaknya tumbuh dengan tanggung jawab dan memahami bahwa masa depan harus diperjuangkan, bukan sekadar ditunggu.

Dari Pengungsian hingga Mengenal Ambon

Perjalanan hidup Ibu Nur juga diwarnai pengalaman berpindah tempat. Pada 1988, ia mengalami masa pengungsian dari Pulau Geser, Kabupaten Seram Bagian Timur, menuju Kota Ambon. Ia kemudian tinggal di Desa Halong, termasuk di lingkungan asrama Angkatan Laut.

Di tempat itu, ia menerima bantuan berupa pakaian dan uang dari Siti Hardiyanti Rukmana, putri Presiden Soeharto.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu bagian dari perjalanan panjang hidupnya dalam menghadapi kesulitan. Ibu Nur mengenang bagaimana bantuan dari orang lain dapat berarti besar bagi keluarga yang sedang berjuang untuk bertahan.

Ia kemudian mengenal Ambon dengan lebih dekat. Dari kawasan Batu Merah, ia berjalan menuju Pasar Mardika, bertemu teman-teman, dan membangun hubungan dengan orang-orang yang memberikan perhatian kepadanya.

Pengalaman hidup itulah yang turut membentuk cara pandangnya tentang kepedulian sosial. Ia memahami bahwa di balik setiap keluarga yang mengalami kesulitan, ada kebutuhan, harapan, dan perjuangan yang mungkin tidak terlihat oleh orang lain.

Karena itu, ketika melihat orang lain berada dalam keadaan sulit, ingatannya selalu kembali kepada masa lalu.

Ia tahu bagaimana rasanya berjuang dengan segala keterbatasan. Ia juga tahu betapa berartinya uluran tangan ketika kehidupan sedang berada di titik yang berat.

Membesarkan delapan anak bukan perkara mudah. Apalagi, ketika kebutuhan hidup harus dipenuhi dengan usaha sederhana dan pendidikan tetap menjadi prioritas utama.

Ibu Nur mengaku pernah menghadapi pandangan sinis dari sebagian orang terhadap caranya mendidik anak-anak. Namun, ia memilih bertahan dengan keyakinan bahwa kerja keras, ketekunan, dan doa akan menemukan jalannya.

“Usaha tidak akan mengkhianati hasil. Dengan niat, ketekunan, dan izin Allah, semuanya bisa berhasil. Sekarang saya merasa sangat bersyukur melihat keberhasilan delapan anak saya,” ungkapnya.

Perlahan, perjuangan itu memperlihatkan hasil. Anak-anaknya menempuh jalan masing-masing. Bahlil, anak kedua, berhasil menduduki jabatan menteri di pemerintahan. Anak pertamanya dan anak ketiganya juga disebut menempati posisi kepala dinas, sementara anak lainnya meniti karier di bidang masing-masing, termasuk legislatif.

Bagi Ibu Nur, keberhasilan itu bukan semata-mata tentang jabatan yang diraih. Lebih dari itu, ia melihat anak-anaknya mampu melewati keadaan sulit yang dahulu membayangi kehidupan keluarga mereka.

Ia pun pernah menerima apresiasi dari Menteri Pendidikan pada 2019 sebagai orang tua hebat tingkat nasional. Penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas perjuangannya mendidik dan membesarkan anak-anak.

Kisah hidupnya juga menarik perhatian sutradara film Habibie & Ainun, Faozan Rizal, yang datang ke Fakfak untuk mendokumentasikan perjalanan hidup Ibu Nur.

Kisah yang semula berlangsung di ruang keluarga sederhana itu akhirnya menjelma menjadi cerita tentang ketabahan seorang ibu, tentang pendidikan, dan tentang bagaimana harapan dapat tumbuh di tengah keterbatasan.

Tangis di Usia Bahlil yang ke-50

Ada satu momen yang begitu membekas dalam ingatan Ibu Nur: perayaan ulang tahun Bahlil Lahadalia yang ke-50.

Ia hadir setelah diminta menghadiri perayaan hari kelahiran anaknya tersebut. Di hadapan para tamu, Bahlil menyampaikan rasa bangganya karena telah dilahirkan dan dibesarkan oleh seorang ibu yang mengalami banyak penderitaan serta pengorbanan demi masa depan anak-anaknya.

Mendengar pengakuan itu, Ibu Nur menangis.

Bukan semata-mata karena anaknya telah menjadi pejabat tinggi negara, melainkan karena perjuangan yang selama ini dijalani akhirnya diingat dan diakui oleh anak yang dahulu harus berbagi seragam sekolah dengannya.

Di balik jabatan seorang menteri, ia melihat kembali anak kecil yang pernah menunggu giliran mengenakan seragam, belajar di bawah cahaya pelita, dan tumbuh dalam keluarga yang harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Bagi seorang ibu, mungkin tidak ada hadiah yang lebih berarti daripada mengetahui bahwa anak-anaknya tidak melupakan pengorbanan yang telah diberikan.

Dalam perbincangannya dengan Ketua DPD Partai Golkar Kota Ambon, Eli Toisuta, Ibu Nur menyampaikan pesan yang terus ia pegang hingga hari ini: keberhasilan bukan hanya tentang apa yang diperoleh, tetapi juga tentang apa yang dapat diberikan kepada orang lain.

Ia selalu mengingatkan anak-anaknya bahwa di balik rezeki yang diterima, terdapat hak orang lain yang perlu diperhatikan. Karena itu, ketika ada orang datang meminta pertolongan, ia berpesan agar mereka membantu dengan baik sesuai kemampuan.

“Saya sering sampaikan, di balik rezeki atau apa yang anak-anak dapat saat ini, ada hak orang lain. Kalau ada yang datang meminta bantuan, harus dibantu dengan baik. Allah akan menilai dan memberikan berkah dari amaliah yang kita keluarkan untuk membantu sesama,” tuturnya.

Pesan itu lahir bukan dari teori, melainkan dari pengalaman hidup. Ibu Nur pernah berada dalam keadaan membutuhkan. Ia pernah menghadapi masa ketika pakaian, pendidikan, dan kebutuhan sehari-hari harus diperjuangkan dengan sungguh-sungguh.

Ia juga melihat bahwa zaman sekarang menawarkan lebih banyak kemudahan bagi perempuan untuk berkembang dibandingkan masa ketika ia membesarkan anak-anaknya. Namun, menurutnya, kemudahan itu tetap harus disertai ketekunan, keberanian, dan komitmen untuk mendidik generasi berikutnya.

Pada akhirnya, kisah Ibu Nur bukan hanya cerita tentang seorang ibu yang berhasil mengantarkan anaknya menjadi menteri. Ini adalah kisah tentang seorang perempuan yang menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk berjuang lebih keras, bukan untuk menyerah.

Dari lima kilogram kue cucur yang dibagi kepada anak-anaknya untuk dijual, dari seragam sekolah yang dipakai bergantian, hingga pelita yang menerangi malam belajar, tersimpan pelajaran tentang kerja keras dan pengorbanan.

Dan ketika salah satu anaknya kini berdiri di panggung kekuasaan, Ibu Nur tetap membawa pesan yang sama: jangan pernah lupa kepada Allah, jangan lupakan masa sulit, dan jangan menutup hati bagi sesama. (abu saimima)